Literasi Keuangan Harus Masuk Kurikulum: OJK Dorong Edukasi Sejak Dini untuk Perkuat Ketahanan Masyarakat
PATROLI CIA COM PROVINSI NTT Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan pentingnya penguatan literasi keuangan melalui jalur pendidikan formal sebagai fondasi membangun ketahanan ekonomi masyarakat, terutama generasi muda. Upaya ini dinilai krusial di tengah semakin kompleksnya produk dan layanan keuangan.
Hal tersebut disampaikan dalam webinar edukasi keuangan yang menjadi bagian dari rangkaian Global Money Week (GMW) yang mengusung tema Smart Money Talks. Kegiatan ini diikuti sekitar 3.000 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari regulator, pelaku industri jasa keuangan, tenaga pendidik, hingga mahasiswa.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan OJK, Friderica Widyasari Dewi, menekankan bahwa literasi keuangan tidak hanya menyangkut pengetahuan, tetapi juga mencakup keterampilan, sikap, dan kemampuan mengambil keputusan finansial yang tepat.
“Literasi keuangan harus mampu membentuk ketahanan individu dalam mengelola keuangan, termasuk menghadapi risiko dan merencanakan masa depan,” ujarnya.
Menurut dia, pendidikan memegang peran strategis dalam membangun kompetensi keuangan sejak dini. Integrasi materi keuangan dalam kurikulum dinilai penting agar setiap individu memiliki bekal untuk mengambil keputusan finansial yang bijak sepanjang hidup.
OJK juga mendorong kolaborasi lintas sektor—mulai dari regulator, dunia pendidikan, industri, hingga komunitas—guna membangun ekosistem literasi keuangan yang kuat dan berkelanjutan. Selain melalui sekolah, edukasi keuangan perlu diperluas lewat platform digital dan kampanye nasional.
Dalam kesempatan yang sama, perwakilan OECD International Network on Financial Education (OECD/INFE), Magda Bianco, menegaskan bahwa literasi keuangan merupakan modal penting bagi masyarakat untuk memanfaatkan peluang ekonomi sekaligus meminimalkan risiko.
Ia menyoroti maraknya instrumen investasi baru dan derasnya arus informasi yang tidak selalu kredibel sebagai tantangan sekaligus peluang. Karena itu, kompetensi keuangan perlu dibangun sejak usia sekolah.
“Pembelajaran sejak dini membuat pengetahuan lebih melekat hingga dewasa, sekaligus membantu mengurangi kesenjangan akibat perbedaan latar belakang sosial ekonomi,” kata Magda.
Berbagai studi, lanjutnya, menunjukkan bahwa individu dengan literasi keuangan yang baik cenderung lebih mampu mengelola utang secara bijak, menghindari jebakan utang berlebih, serta mengambil keputusan investasi secara rasional berdasarkan pemahaman risiko dan imbal hasil.
Secara lebih luas, peningkatan literasi keuangan tidak hanya berdampak pada kesejahteraan individu, tetapi juga berkontribusi terhadap stabilitas sistem keuangan, efektivitas kebijakan ekonomi, dan pengurangan kesenjangan sosial.
Melalui kampanye Global Money Week, para pemangku kepentingan mendorong terciptanya ruang dialog yang terbuka dan inklusif mengenai keuangan di lingkungan keluarga, sekolah, dan komunitas. Langkah ini diharapkan dapat membentuk perilaku keuangan yang bertanggung jawab serta meningkatkan kepercayaan diri finansial generasi muda.— Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan pentingnya penguatan literasi keuangan melalui jalur pendidikan formal sebagai fondasi membangun ketahanan ekonomi masyarakat, terutama generasi muda. Upaya ini dinilai krusial di tengah semakin kompleksnya produk dan layanan keuangan.
Hal tersebut disampaikan dalam webinar edukasi keuangan yang menjadi bagian dari rangkaian Global Money Week (GMW) yang mengusung tema Smart Money Talks. Kegiatan ini diikuti sekitar 3.000 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari regulator, pelaku industri jasa keuangan, tenaga pendidik, hingga mahasiswa.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan OJK, Friderica Widyasari Dewi, menekankan bahwa literasi keuangan tidak hanya menyangkut pengetahuan, tetapi juga mencakup keterampilan, sikap, dan kemampuan mengambil keputusan finansial yang tepat.
“Literasi keuangan harus mampu membentuk ketahanan individu dalam mengelola keuangan, termasuk menghadapi risiko dan merencanakan masa depan,” ujarnya.
Menurut dia, pendidikan memegang peran strategis dalam membangun kompetensi keuangan sejak dini. Integrasi materi keuangan dalam kurikulum dinilai penting agar setiap individu memiliki bekal untuk mengambil keputusan finansial yang bijak sepanjang hidup.
OJK juga mendorong kolaborasi lintas sektor—mulai dari regulator, dunia pendidikan, industri, hingga komunitas—guna membangun ekosistem literasi keuangan yang kuat dan berkelanjutan. Selain melalui sekolah, edukasi keuangan perlu diperluas lewat platform digital dan kampanye nasional.
Dalam kesempatan yang sama, perwakilan OECD International Network on Financial Education (OECD/INFE), Magda Bianco, menegaskan bahwa literasi keuangan merupakan modal penting bagi masyarakat untuk memanfaatkan peluang ekonomi sekaligus meminimalkan risiko.
Ia menyoroti maraknya instrumen investasi baru dan derasnya arus informasi yang tidak selalu kredibel sebagai tantangan sekaligus peluang. Karena itu, kompetensi keuangan perlu dibangun sejak usia sekolah.
“Pembelajaran sejak dini membuat pengetahuan lebih melekat hingga dewasa, sekaligus membantu mengurangi kesenjangan akibat perbedaan latar belakang sosial ekonomi,” kata Magda.
Berbagai studi, lanjutnya, menunjukkan bahwa individu dengan literasi keuangan yang baik cenderung lebih mampu mengelola utang secara bijak, menghindari jebakan utang berlebih, serta mengambil keputusan investasi secara rasional berdasarkan pemahaman risiko dan imbal hasil.
Secara lebih luas, peningkatan literasi keuangan tidak hanya berdampak pada kesejahteraan individu, tetapi juga berkontribusi terhadap stabilitas sistem keuangan, efektivitas kebijakan ekonomi, dan pengurangan kesenjangan sosial.
Melalui kampanye Global Money Week, para pemangku kepentingan mendorong terciptanya ruang dialog yang terbuka dan inklusif mengenai keuangan di lingkungan keluarga, sekolah, dan komunitas. Langkah ini diharapkan dapat membentuk perilaku keuangan yang bertanggung jawab serta meningkatkan kepercayaan diri finansial generasi muda.(Rjb)