PATROLI CIA COM PROVINSI NTT Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang didorong untuk memperkuat peran perguruan tinggi sebagai mitra strategis pemerintah dan masyarakat dalam menjawab berbagai persoalan pembangunan. Penyusunan Rencana Strategis (Renstra) Unwira 2026–2030 diharapkan tidak berhenti sebagai dokumen lima tahunan, tetapi menjadi pijakan transformasi kampus yang nyata.

Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan penyusunan Renstra Unwira 2026–2030 yang melibatkan pimpinan universitas, Yayasan Pendidikan Katolik Arnoldus (Yapenkat) Arnoldus, akademisi, pemerintah, mitra serta pemangku kepentingan lainnya.

Dalam sambutan yang disampaikan atas nama Pemerintah Kota Kupang, ditegaskan bahwa Renstra harus mampu menjawab tiga pertanyaan mendasar: Unwira ingin menjadi apa, hadir untuk siapa, dan seberapa besar manfaat keberadaannya dapat dirasakan masyarakat.
Tema “Unggul, Beridentitas dan Berdampak” dinilai relevan dengan tantangan pendidikan tinggi saat ini. Unggul berarti memiliki kualitas, beridentitas berarti tetap kuat pada nilai dan jati diri, sedangkan berdampak berarti ilmu pengetahuan dan keberadaan kampus benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Renstra bukan sekadar dokumen lima tahunan. Renstra adalah kesempatan untuk menjawab Unwira ingin menjadi apa, hadir untuk siapa, dan seberapa besar manfaatnya dirasakan masyarakat,” demikian pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Pemerintah Kota Kupang melihat terdapat titik temu yang kuat antara peran Unwira dan agenda pembangunan daerah. Pemerintah memiliki masyarakat sekaligus berhadapan langsung dengan berbagai persoalan pembangunan, sementara perguruan tinggi memiliki ilmu pengetahuan, riset, inovasi, akademisi, serta generasi muda.
Kolaborasi keduanya dinilai penting agar pengetahuan tidak berhenti di lingkungan kampus, tetapi dapat diterjemahkan menjadi solusi bagi masyarakat.
“Kalau kita berjalan sendiri-sendiri, hasilnya terbatas. Tetapi kalau kita berjalan bersama, ilmu dapat bertemu dengan kebutuhan masyarakat dan kebijakan dapat diperkuat oleh pengetahuan,” ujar perwakilan Pemerintah Kota Kupang dalam sambutannya.
Karena itu, Unwira diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai menara ilmu, tetapi juga menjadi “rumah” bagi berbagai persoalan masyarakat. Sejumlah isu strategis seperti kemiskinan, kesehatan, pendidikan, stunting, lingkungan, pengelolaan sampah, pengembangan UMKM, ekonomi kreatif hingga transformasi digital membutuhkan keterlibatan perguruan tinggi.
Perguruan tinggi, lanjutnya, memiliki posisi strategis dalam membangun sumber daya manusia yang sehat, terdidik, terampil, inovatif dan berkarakter.
Semangat tersebut juga sejalan dengan momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Pembangunan tidak semata-mata diukur dari pembangunan jalan, gedung atau infrastruktur, tetapi juga dari keberhasilan membangun manusia.
Dalam konteks itu, Pemerintah Kota Kupang menyatakan kesiapan untuk menjadi mitra kolaborasi Unwira, terutama dalam pembangunan sumber daya manusia, riset, inovasi, pengabdian kepada masyarakat dan penguatan generasi muda.
Lulusan untuk NTT
Salah satu gagasan penting yang ditekankan dalam penyusunan Renstra tersebut adalah perlunya memperluas orientasi pendidikan tinggi. Ukuran keberhasilan Unwira tidak cukup hanya dilihat dari jumlah lulusan atau capaian akademik, tetapi juga dari kontribusi lulusan terhadap pembangunan daerah.
“Bukan hanya lulusan seperti apa yang ingin kita hasilkan, tetapi NTT seperti apa yang ingin kita bangun melalui lulusan-lulusan tersebut?” demikian pertanyaan reflektif yang disampaikan dalam sambutan.
Pertanyaan itu menjadi penting karena transformasi pendidikan tidak berarti meninggalkan identitas. Sebaliknya, transformasi harus menjadi upaya membawa nilai-nilai yang dimiliki lembaga pendidikan untuk menjawab perubahan dan tantangan zaman.
Pendidikan, dalam perspektif tersebut, tidak berhenti pada proses pembelajaran di ruang kelas. Riset tidak semestinya berhenti di perpustakaan, sementara inovasi harus mampu turun ke lapangan dan menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan masyarakat.
Renstra Unwira 2026–2030 diharapkan mampu melahirkan arah pengembangan kampus yang lebih jelas, keberanian untuk melakukan perubahan serta kolaborasi yang konkret dengan pemerintah dan masyarakat.
Pada akhirnya, keberhasilan perguruan tinggi bukan hanya diukur dari seberapa banyak fasilitas dan program yang dibangun, tetapi dari seberapa banyak kehidupan masyarakat yang menjadi lebih baik karena keberadaan kampus.
Kegiatan tersebut turut dihadiri pimpinan Unwira dan Yayasan Pendidikan Katolik Arnoldus, para narasumber, guru besar, dosen, tenaga kependidikan, tokoh masyarakat serta mitra Unwira. Di antara narasumber yang disebut dalam agenda kegiatan ialah Romo Dr. Leonardus Mali, Pr., Fil., Prof. Dr. Simon Sabon Ola, serta Theodora Ewalde Taek, S.Pd.
Penyusunan Renstra 2026–2030 menjadi momentum bagi Unwira untuk mempertegas arah pengembangan institusi sekaligus memperkuat kontribusinya bagi pembangunan Kota Kupang dan Nusa Tenggara Timur.
Unggul dalam kualitas, kuat dalam identitas, dan nyata dalam dampak menjadi arah yang diharapkan dapat diwujudkan Unwira dalam lima tahun mendatang.(Rjb)